Sabtu, 26 Februari 2011

Eucheuma cottonii


Taksonomi Eucheuma cottonii adalah sebagai berikut :
Regnum : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solierisceae
Genus : Eucheuma
Spesies : Eucheuma cottonii

Bentuk tubuh dari pada Eucheuma cottonii yaitu thallus berbentuk silindris; permukaan licin; thallusnya bersifat Cartilageneus ( menyerupai tulan rawan / muda ); percabangan thallus berujung runcing atau tumpul, sekitar percabangan ditumbuhi nodulus ( tonjol-tonjolan ), dan duri lunak / tumpul untuk melindungi gametangia; serta berwarna hijau terang, hijau olive, dan coklat kemerahan. Percabangan bersifat alternates ( berselang seling ), tidak teratur, serta dapat bersifat Dichotomous ( percabangan dua-dua ) trichotomous ( sistem percabangan tiga-tiga ).

Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Rumput laut tersebut dapat diolah menjadi permen, jelly, manisan, dodol, dan minuman dengan metode dan peralatan yang sederhana. Pembuatan makanan ini dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut dan diversifikasi olahan rumput laut.

Jelly Rumput Laut dari Eucheuma cottonii
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan permen jelly rumput laut adalah rumput laut Eucheuma cottonii kering tawar. Bahan lainnya yang diperlukan adalah glukosa/fruktosa cair, sukrosa, asam sitrat, pewarna, esens/pasta, dan natrium benzoat. Pembuatan permen jelly dilakukan dengan mencampur gula/glukosa dengan rumput laut yang dapat membentuk gel dan menyerap air sehingga dapat mempengaruhi tekstur permen jelly yang dibuat.

Manisan Kering Rumput Laut dari Eucheuma cottonii
Bahan utama yang digunakan untuk pembuatan manisan adalah jenis rumput laut Eucheuma cottonii kering tawar. Bahan lain yang diperlukan dalam pembuatan manisan ini adalah tawas/kapur sirih untuk perendaman, sukrosa (gula pasir), asam sitrat, pewarna, esens/pasta, dan natrium benzoat. Bahan pemanis yang digunakan dalam pembuatan manisan ini adalah gula pasir. Pemberian gula dalam konsentrasi yang tinggi selain untuk memberikan rasa manis juga sebagai pengawet untuk mencegah tumbuhnya mikroba. Rumput laut dapat dibuat menjadi manisan basah dan manisan kering berdasarkan proses pengolahannya.

Dodol Kering Rumput Laut dari Eucheuma cottonii
Bahan utama yang digunakan untuk pembuatan dodol adalah jenis rumput laut Eucheuma cottonii kering tawar. Bahan lain yang diperlukan dalam pembuatan dodol ini adalah gula pasir, pewarna, esens atau pasta dan natrium benzoat. Rumput laut dapat diolah menjadi dodol rumput laut yang lezat dan manis rasanya dengan cara merebus pasta rumput laut dengan gula.

Minuman Rumput Laut Eucheuma cottonii
Bahan utama yang digunakan untuk pembuatan minuman rumput laut adalah jenis rumput laut Eucheuma cottonii kering. Bahan lain yang diperlukan adalah tawas/kapur sirih untuk perendaman, sukrosa (gula pasir), asam sitrat, pewarna, esens/pasta, dan natrium benzoat. Salah satu produk rumput laut yang telah populer dan banyak beredar di pasar adalah minuman rumput laut yang dikemas dalam kemasan plastik. Minuman tersebut selain menyehatkan juga menyegarkan, terutama jika diminum dalam keadaan dingin.

Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011

Sekilas Rumput Laut


Rumput laut termasuk kelompok tumbuhan algae yang berukuran besar, dalam artian dapat terlihat dengan mata biasa tanpa alat pembesar dan bersifat bentik atau tumbuh menancap atau menempel pada suatu substrat di perairan laut. Algae yang disebut rumput laut ini umumnya terdiri dari kelompok algae merah (Rhodophyceae), algae coklat (Phaeophyceae) dan algae hijau (Chlorophyceae). Ketiga kelompok ini yang tumbuh di laut diperkirakan ada sekitar 9000 jenis yang masing-masing adalah sekitar 6000 jenis Rhodophyceae, 2000 jenis Phaeophyceae dan 1000 jenis Chlorophyceae.

Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat tergantung dari faktor-faktor oseanografi (fisika, kimia dan pergerakan atau dinamika laut) serta jenis substrat dasarnya. Untuk pertumbuhannya, rumput laut mengambil nutrisi dari sekitarnya secara difusi melalui dinding thallusnya.

Penggolongan Rumput Laut
Penggolongan Rumput Laut berdasarkan Kandungan Pigmen
Berdasarkan kandungan pigmennya, rumput laut dikelompokkan menjadi 4 kelas (Othmer, 1986) yaitu : Rhodophyceae (ganggang merah), Phaeophyceae (ganggang cokelat), Chlorophyceae (ganggang hijau), Cyanophyceae (ganggang biru hijau). Beberapa jenis rumput yang bernilai ekonomi sejak dulu sudah diperdagangkan yaitu Eucheuma sp., Hynea sp., Gracillaria sp., dan Gelidium sp., dari kelas Rhodophyceae serta Sargassum sp., dari kelas Phaeophyceae. Rumput laut kelompok merah memiliki pigmen dominan fikoeretrin (phycoerethrin) dan fikosianin (phycocyanin) yang menimbulkan warna merah, walaupun pada kenyataannya di alam menunnjukkan variasi warna lain seperti hijau, ungu dan coklat tua karena sifat adaptik kromatiknya. Sebagai indikasi bahwa itu adalah rumput laut merah, yaitu apabila terjemur sinar matahari akan tampak berubah warna asalnya menjadi merah-ungu, kemudian menjadi putih karena kehilangan pigmennya. Pigmen yang dominan pada rumput laut kelompok coklat adalah fucoxantin, sedangkan pigmen yang dominan pada rumput laut kelompok hijau adalah klorofil b (Chlorophyl b).

Penggolongan Rumput Laut Berdasarkan Kandungan Koloid
Pengelompokkan lain adalah berdasarkan kandungan koloidnya. Ada kelompok rumput laut penghasil agar (senyawa polisakarida sulfat bersifat koloid) yang biasa disebut agarofit antara lain Gracilaria (rambu kasang) dan Gelidium (kades). Rumput laut seperti Eucheuma (agar-agar kasar, agar-agar patah tulang) dan Kappaphycus (cottonii) lainnya adalah termasuk kelompok penghasil karaginan (berupa garam sodium, kalsium dan potasium dari senyawa polisakarida sulfat asam karaginat) yang disebut karaginofit. Kelompok lainnya yaitu alginofit adalah penghasil alginat (garam kalsium, kalium, natrium dan magnesium dari senyawa polisakarida asam alginik), termasuk ke dalamnya antara lain Sargassum (oseng) dan Turbinaria.

Penamaan Rumput Laut
Pengelompokkan dan penamaan rumput laut secara ilmiah berdasarkan jenjang taksonomiknya diatur secara rinci dalam Kode Internasional Nomenklatur Botani. Nama ilmiah (scientific name) rumput laut yang biasanya ditulis dalam bahasa latin adalah berlaku (valid) secara universal di seluruh dunia. Selain itu ada juga nama rumput laut yang bersifat lokal (vernacular name) berdasarkan kelaziman di suatu daerah dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing. Di Indonesia misalnya ada rumput laut yang nama ilmiahnya Gracilaria memilki nama lokal yang berbeda-beda di setiap daerah, ada yang menyebut rambu kasang (di Jawa), bulung sangu (di Bali), sango-sango/dongi-dongi (di Sulawesi) dan janggut dayung (di Bangkok). Ada juga nama rumput laut yang telah populer dalam dunia perdagangan internasional, misalnya “cottonii” untuk sebutan rumput laut yang nama ilmiahnya Kappaphycus dan nori untuk rumput laut Porphyra dari Jepang.

Kandungan Rumput Laut
Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar-agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan-bahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung yodium.

Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011

Jumat, 25 Februari 2011

All About Mangrove


Kata ‘mangrove’ merupakan kombinasi antara bahasa Portugis "mangue" dan bahasa Inggris "grove". Dalam bahasa Inggris, kata mangrove digunakan untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut dan untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedang dalam bahasa Portugis kata ’mangrove’ digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata ’mangal’ digunakan untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Sedangkan menurut FAO, kata mangrove sebaiknya digunakan untuk individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut.

Menurut Snedaker (1978) dalam Kusmana (2003), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Sedangkan menurut Tomlinson (1986), kata mangrove berarti tanaman tropis dan komunitasnya yang tumbuh pada daerah intertidal. Daerah intertidal adalah wilayah dibawah pengaruh pasang surut sepanjang garis pantai, seperti laguna, estuarin, pantai dan river banks. Mangrove merupakan ekosistem yang spesifik karena pada umumnya hanya dijumpai pada pantai yang berombak relatif kecil atau bahkan terlindung dari ombak, di sepanjang delta dan estuarin yang dipengaruhi oleh masukan air dan lumpur dari daratan.

Dengan demikian secara ringkas dapat didefinisikan bahwa hutan mangrove adalah tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama pada pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Sedangkan ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (hewan dan tumbuhan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove.

Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut hutan mangrove. Antara lain tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, hutan payau dan hutan bakau. Khusus untuk penyebutan hutan bakau, sebenarnya istilah ini kurang sesuai untuk menggambarkan mangrove sebagai komunitas berbagai tumbuhan yang berasosiasi dengan lingkungan mangrove. Di Indonesia, istilah bakau digunakan untuk menyebut salah satu genus vegetasi mangrove, yaitu Rhizopora. Sedangkan kenyataannya mangrove terdiri dari banyak genus dan berbagai jenis, sehingga penyebutan hutan mangrove dengan istilah hutan bakau sebaiknya dihindari.

Secara ringkas ekosistem mangrove terbentuk dari unsur-unsur sebagai berikut :
a. spesies pohon dan semak yang benar-benar memiliki habitat terbatas di lingkungan mangrove (exclusive mangrove)
b. spesies pohon dan semak yang mampu hidup di lingkungan mangrove dan di luar lingkungan mangrove (non-exclusive mangrove)
c. berbagai biota yang hidupnya berasosiasi dengan lingkungan mangrove, baik biota yang keberadaannya bersifat menetap, sekedar singgah mencari makan maupun biota yang keberadaannya jarang ditemukan di lingkungan mangrove
d. berbagai proses yang terjadi di ekosistem mangrove untuk mempertahankan keberadaan ekosistem mangrove itu sendiri
e. hamparan lumpur yang berada di batas hutan sebenarnya dengan laut
f. sumber daya manusia yang berada di sekitar ekosistem mangrove

Hutan mangrove dapat ditemukan di pesisir pantai wilayah tropis sampai sub tropis, terutama pada pantai yang landai, dangkal, terlindung dari gelombang besar dan muara sungai. Secara umum hutan mangrove dapat berkembang dengan baik pada habitat dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. jenis tanah berlumpur, berlempung atau berpasir, dengan bahan bentukan berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang/koral
b. habitat tergenang air laut secara berkala, dengan frekuensi sering (harian) atau hanya saat pasang purnama saja. Frekuensi genangan ini akan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove
c. menerima pasokan air tawar yang cukup, baik berasal dari sungai, mata air maupun air tanah yang berguna untuk menurunkan kadar garam dan menambah pasokan unsur hara dan lumpur
d. berair payau (2-22 ‰) sampai dengan asin yang bisa mencapai salinitas 38 ‰

Secara umum hutan mangrove memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Tidak dipengaruhi oleh iklim, tetapi dipengaruhi oleh pasang surut air laut (tergenang air laut pada saat pasang dan bebas genangan air laut pada saat surut)
b. Tumbuh membentuk jalur sepanjang garis pantai atau sungai dengan substrat anaerob berupa lempung (firm clay soil), gambut (peat), berpasir (sandy soil) dan tanah koral
c. Struktur tajuk tegakan hanya memiliki satu lapisan tajuk (berstratum tunggal). Komposisi jenis dapat homogen (hanya satu jenis) atau heterogen (lebih dari satu jenis). Jenis-jenis kayu yang terdapat pada areal yang masih berhutan dapat berbeda antara satu tempat dengan lainnya, tergantung pada kondisi tanahnya, intensitas genangan pasang surut air laut dan tingkat salinitas
d. Penyebaran jenis membentuk zonasi. Zona paling luar berhadapan langsung dengan laut pada umumnya ditumbuhi oleh jenis-jenis Avicennia spp dan Sonneratia spp (tumbuh pada lumpur yang dalam, kaya bahan organik). Zona pertengahan antara laut dan daratan pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora sp. Sedangkan zona terluar dekat dengan daratan pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis Brugiera sp.

Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011

Rabu, 23 Februari 2011

Wisata Kuliner Khas Sulawesi Tengah

Sajian Sese Gampaya dipadu dengan ikan Bayaba Bakar Kuliner Kaili Sulawesi Tengah

  • Bahan: Bunga pepaya segar, daun paku muda, 250 cc santan kelapa, garam secukupnya, juga dihaluskan 10 buah cabe rawit, 2 buah lombok keriting, 1 ons kemiri, 5 siung bawang merah, 5 siung bawang putih, 1 ruas jahe.
  • Cara membuat : Bunga pepaya direbus, daun paku direbus masukkan garam, bila bunga pepaya dan daun paku sudah layu angkat dan tiriskan, bumbu ditumis dengan sedikit minyak kelapa, tuangkan santan sambil diaduk-aduk, bila santan sudah mengeluarkan sedikit minyak masukkan bunga pepaya dan daun paku sambil terus diaduk, angkat dan siap disajikan.
  • Ikan Bayaba segar dibakar, berikan sambal rica yg telah jadi secukupnya. Sajikan bersama Sese Gampaya.




Uta Kelo/Sayur Kelor Khas Kaili
Uta Kelo/sayur kelor adalah sayur khas tanah Kaili (Palu - Sulawesi Tengah), sesuai namanya sayur ini dibuat dari bahan utama daun kelor (Moringa sp.) dimasak santan dengan beberapa bahan tambahan lainnya (pisang gepok mentah, jantung pisang, udang kering) serta dibumbuhi sesuai selera. Kota Palu sangat identik dengan sayur ini, sayur yang sangat merakyat di Kota Palu dan sekitarnya; narasa uta kelo ante duo sole, silahkan mencobanya dengan hidangan Nasi Jagung (talebe) dan ikan bakar.




Kaledo-Makanan Khas Palu

Jangan mengaku pernah menginjakkan kaki di Sulawesi Tengah, khususnya Kota Palu, jika Anda belum mencicipi kaledo. Masakan khas Sulawesi Tengah ini termasuk jenis masakan berkuah bening agak kekuning-kuningan dengan rasa yang sangat khas, yakni asem gurih dan pedas. Pada awalnya, masakan ini hanya berbahan baku tulang kaki sapi dengan sedikit dagingnya. Namun, karena penjual kaledo semakin banyak, sehingga tulang kaki sapi semakin sulit didapatkan. Untuk menggantikan tulang kaki tersebut, maka tulang belakang sapi pun disertakan sebagai tambahan bahan utama.


Sumber : http://www.disbudpar.sulteng.go.id/

Salim Bachmid
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM ITS Surabaya 2010/2011
Penerima Beasiswa Prestasi Nasional KEMENAG RI 2007-sekarang
Alumni Young Leaders Summit (YLS) 2011 on Changing Indonesia
Observer Indonesian Young Changemakers Summit (IYCS) 2012

Jumat, 18 Februari 2011

Eksistensiku di KM ITS

Arahan kerja BEM FMIPA ITS 2010-2011 klik disini

Draft Program Kerja Kementerian Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011 klik disini

Presentasi BEM FMIPA di Pengkaderan Mahasiswa Baru 2010 Biologi ITS klik disini

GBHK BEM FMIPA ITS 2010-2011 klik disini

Keputusan Sidang Istimewa I HIMABITS ( saya sebagai Pimpinan Sidang I ) klik disini


Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011

Kampanyeku

Kali ini saya tidak akan menulis berpanjang lebar mengenai masalah-masalah tentang kemahasiswaan atau apalah yang berhubungan dengan eksistensi mahasiswa dalam kerasnya dinamika bangsa ini. Akan tetapi saya akan sedikit CURHAT pengalamanku ketika mencalonkan diri sebagai Ketua HIMABITS 2010-2011. Walaupun saya tidak terpilih, tapi saya cukup merasa senang karena telah berkontribusi dalam Suksesi HIMABITS tersebut. "MENANG atau KALAH" itu hanya HASIL AKHIR, yang terpenting dari itu semua adalah PROSES-nya. Orientasi sesungguhnya adalah pada PROSES bukan pada HASIL AKHIR. Tidak ada gunanya hasil akhir yang cemerlang tetapi cara/proses untuk mendapatkannya adalah cara/proses yang kotor.
Fotoku ketika kampanye tulis
Ini visi misiku:
Visi :
Optimalisasi Potensi HIMABITS Menuju Penguatan Gerakan Mahasiswa Sebagai Aktualisasi Dinamisasi Institusi

Misi :
  1. Mengembangkan budaya kerja professional dalam internal fungsionaris HIMABITS
  2. Memperkokoh dan mengembangkan jejaring HIMABITS
  3. Menjadikan HIMABITS sebagai pusat informasi mahasiswa Biologi ITS
  4. Mengoptimalkan peran mahasiswa Biologi ITS sebagai centre isu
Terlepas dari itu semua, banyak hal yang saya dapatkan pada saat proses pencalonanku sebagai Ketua HIMABITS tersebut. Owh iya, Salah satu faktor yang paling mendasari saya untuk mencalonkan diri adalah untuk menjaga nama baik angkatan. Saya tidak mau angkatanku di cap sebagai produk GAGAL. Oleh karenanya saya dengan besar hati mencalonkan diri. Antara "IYA dan TIDAK" untuk mencalonkan diri, tepat jam 10 malam saya datang ke kos temanku (temanku itu anggota KPU) untuk mengantarkan seluruh berkas administratif Calon Ketua HIMABITS. Walaupun sedikit ragu untuk menanda tangani surat perjanjian yang menjadi salah satu persyaratan pencalonan, tetapi saya tetap yakin untuk menjalankannya. Diawal pencalonanku, saya merasa sedikit lega karena melihat ada 4 orang yang maju mencalonkan diri (saya salah satu diantaranya). Tetapi setelah dilakukan seleksi administratif, ternyata dari 4 orang calon itu hanya 2 orang calon yang di nyatakan lolos seleksi (saya lolos seleksi). Setelah itu masuk pada sesi DISKUSI PANEL, diskusi panel tersebut dilaksanakan malam hari yang diawali dengan orasi dari Calon Ketua untuk menyampaikan visi, misi, gagasan, dan pandang-pandang yang akan dilakukannya kelak. Ketika orasi selesai maka dilanjutkan pada acara yang paling mendebarkan, saya di tanyai banyak pertanyaan oleh para PANELIS yang ada. Saya berusaha menjawab seluruh pertanyaan panelis dengan sebisa mungkin. Malam diskusi panel tersebut merupakan salah satu malam terberat dalam hidupku. Bukan lebay sih, jujur dalam diskusi panel tersebut banyak sekali tekanan yang saya rasakan. Mulai tekanan dari para panelis, dari seluruh mahasiswa Biologi yang hadir, dan juga tekanan dari diri sendiri.


Beberapa hari kemudian mulailah dengan kampanye tulis maupun kampanye lisan dari Calon Ketua. Kampanye lisan diadakan jam 4 sore di selasar Biologi, diawali dengan penyampaian visi misi dari masing-masing Calon Ketua dan dilanjutkan dengan tanya jawab bersama seluruh mahasiswa untuk mengenal dan memahami visi misi dan gagasan-gagasan yang diusung oleh Calon Ketua. Kampanye lisan tersebut diadakan sebanyak 2 kali, dan dimulai pada sore hari (jam 4 sore) dan berakhir pada malam hari (sekitar jam 8 malam) dengan istirahat sholat disela-sela kampanye lisan tersebut. Apabila dibandingkan dengan kampanye-kampanye lisan yang diadakan pada tahun-tahun sebelumnya, kampanye lisan tahun ini merupakan kampanye lisan terlama. Pada kampanye lisan tahun lalu hanya sampai jam 05.30 sore saja, tapi tidak apalah yang penting tetap semangat. Seluruh rangkaian Kampanye Suksesi HIMABITS 2010 telah selesai, tinggal menunggu hari-H penjaringan suara oleh seluruh Mahasiswa Bilogi ITS. Tepat tanggal 3-4 Juni 2010 dilaksanakan Penjaringan Suara Ketua HIMABITS 2010-2011 yang dipusatkan di Selasar Biologi ITS mulai dari pukul 08.00-16.00 WIB. Untuk hasil perolehan suaranya saya lupa, tapi yang jelasnya saya KALAH, Hehehehe,,,KALAH kok bangga. Ketua HIMABITS 2010-2011 Terpilih adalah teman akrab saya Kurniawan F. Masrif. Seorang sosok yang pendiam, bersahaja, dan pekerja keras. Mungkin itulah yang menjadi daya tarik yang menggerakkan hati dan tangan seluruh Mahasiswa Biologi untuk memilihnya. Kayaknya saya harus banyak belajar dari Wawan (sapaan akrab Kurniawan). Itulah sedikit isi hati saya yang menjadi bagian terpenting dan akan tercatat selamanya di dalam catatan manis hidupku. Yang terpenting tetap SEMANGAT dan tetap melakukan yang terbaik bagi Orang Tua, Almamater, dan Indonesia. Buatlah Indonesia tersenyum dengan karya-karya indah seluruh anak bangsa.


Berikut ini beberapa file kenang-kenanganku ketika mencalonkan sebagai Ketua HIMABITS 2010-2011:
http://www.ziddu.com/download/13859851/Kampanyeku.rar.html


Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011