Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Mei 2012

# Tahukah Kamu?

# Tahukah kamu bahwa angka pertumbuhan ekonomi Sulawesi Tengah tahun 2012 mencapai angka 8,75 - 9,55 % dan merupakan nilai pertumbuhan terbesar untuk Sulawesi
--> Pertumbuhan ekonomi: persentase laju perubahan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB)

# Tahukah kamu bahwa angka kemiskinan penduduk Sulawesi Tengah tahun 2012 mencapai angka 16,62 % dan merupakan peringkat terburuk kedua di Sulawesi
--> Kemiskinan: persentase jumlah penduduk miskin terhadap total jumlah penduduk

# Tahukah kamu bahwa angka pengangguran pengangguran Sulawesi Tengah tahun 2012 mencapai 4,63 - 3,65 %
--> Pengangguran: persentase jumlah pengangguran terbuka terhadap terhadap total angkatan kerja

# Tahukah kamu bahwa angka kematian bayi Sulawesi Tengah tahun 2012 mencapai 33 bayi dan merupakan angka terburuk di Sulawesi
--> Angka kematian bayi: jumlah bayi yang meninggal sebelum mencapai usia 1 tahun per 1000 kelahiran hidup

# Tahukah kamu bahwa angka rata-rata lama sekolah penduduk Sulawesi Tengah tahun 2012 mencapai angka 8,12 dan merupakan peringkat terburuk ketiga di Sulawesi
--> Rata-rata lama sekolah: rata-rata jumlah tahun yang dihabiskan oleh penduduk berusia 15 tahun ketasa untuk menempuh semua pendidikan formal yang pernah dijalani

# Tahukah kamu bahwa angka umur harapan hidup penduduk Sulawesi Tengah tahun 2012 mencapai angka 71,39 tahun
--> Angka umur harapan hidup: perkiraan lama hidup rata-rata penduduk

# Tahukah kamu bahwa potensi batu bara Sulawesi Tengah terdapat di Desa Ensa, Kecamatan Mori Atas, Kabupaten Morowali dengan tebal lapisan 0,3 – 1,0 meter

 # Tahukah kamu bahwa potensi nikel Sulawesi Tengah terdapat di Kecamatan Petasi, Bungku Tengah, Bungku Selatan Kabupaten Morowali dengan Luas Wilayah tambang 36.635 Ha

# Tahukah kamu bahwa potensi emas Sulawesi Tengah terdapat di Kecamatan Palu Selatan dan Palu Utara, Kota Palu dengan luas wilayah tambang 561.050 Ha; Kecamatan Parigi Moutong, Kabupaten Parigi Moutong (46.400 Ha); Kecamatan Paleleh, Bunobogu, Dondo, Kabupaten Buol (746.400 Ha); Kecamatan Lore Utara, Kabupaten Poso (19.180 Ha) dan Kecamatan Biromaru Kabupaten Donggala (288.700 Ha)

# Tahukah kamu bahwa potensi tanbaga Sulawesi Tengah terdapat di Moutong Kabupaten Parigi Moutong dan Sungai Bukal Kabupaten Buol

# Tahukah kamu bahwa potensi belerang Sulawesi Tengah terdapat di Kecamatan Una-Una Kabupaten Tojo Una-Una

# Tahukah kamu bahwa potensi granit Sulawesi Tengah terdapat di Kabupaten Tolitoli, Kabupaten Donggala, Kabupaten Banggai Kepulauan dan Kabupaten Tolitoli

# Tahukah kamu bahwa potensi marmer Sulawesi Tengah terdapat di Kabupaten Poso dan Kabupaten Morowali

# Tahukah kamu bahwa potensi pasir dan batu Sulawesi Tengah terdapat hampir di semua sungai dalam jumlah yang cukup besar

Salim Bachmid
Biologi Kelautan 2007 ITS Surabaya
Menteri Dalam Negeri BEM ITS Surabaya 2010/2011
Penerima Beasiswa Prestasi Nasional KEMENAG RI
President of Indonesian Young Heroes
Alumni Young Leaders Summit 2011 on Changing Indonesia
Observer Indonesian Young Changemakers Summit (IYCS) 2012
 

Kamis, 08 Maret 2012

Zoobentos

Zoobentos merupakan hewan yang sebagian atau seluruh siklus hidupnya berada di dasar perairan, baik yang sesil, merayap maupun menggali lubang (Kendeigh, 1980; Odum 1993; Rosenberg dan Resh, 1993). Hewan ini memegang beberapa peran penting dalam perairan seperti dalam proses dekomposisi dan mineralisasi material organik yang memasuki perairan (Lind, 1985), serta menduduki beberapa tingkatan trofik dalam rantai makanan (Odum, 1993).


Berdasarkan ukurannya, zoobenthos dapat digolongkan ke dalam kelompok zoobenthos mikroskopik atau mikrozoobenthos dan zoobenthos makroskopik yang disebut juga dengan makrozoobenthos. Menurut Cummins (1975), makrozoobenthos dapat mencapai ukuran tubuh sekurang-kurangnya 3 - 5 mm pada saat pertumbuhan maksimum. APHA (1992) menyatakan bahwa makrozoobenthos dapat ditahan dengan saringan No.  30 Standar Amerika.  Selanjutnya Slack et all.  (1973) dalam Rosenberg and Resh (1993) menyatakan bahwa makrozoobenthos merupakan organisme yang tertahan pada saringan yang berukuran besar dan sama dengan 200 sampai 500 mikrometer. Organisme yang termasuk makrozoobenthos diantaranya adalah Crustacea, Isopoda, Decapoda, Oligochaeta, Mollusca, Nematoda dan Annelida (Cummins, 1975).


Gaufin dalam Wilhm (1975) mengelompokkan spesies makrozoobenthos berdasarkan kepekaannya terhadap pencemaran karena bahan organik, yaitu kelompok intoleran, fakultatif dan toleran.  Organisme intoleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang sempit dan jarang dijumpai di perairan yang kaya organik. Organisme fakultatif yaitu organisme yang dapat bertahan hidup pada kisaran kondisi lingkungan yang lebih besar bila dibandingkan dengan organisme intoleran. Organisme toleran yaitu organisme yang dapat tumbuh dan berkembang dalam kisaran kondisi lingkungan yang luas, yaitu organisme yang sering dijumpai di perairan yang berkualitas jelek. Berdasarkan teori Shelford (Odum, 1993) maka makrozoobenthos dapat bersifat toleran maupun bersifat sensitif terhadap perubahan lingkungan. Organisme yang memiliki kisaran toleransi yang luas akan memiliki penyebaran yang luas juga. Sebaliknya organisme yang kisaran toleransinya sempit (sensitif) maka penyebarannya juga sempit.


Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keberadaan Zoobenthos di Perairan Pesisir
Struktur komunitas zoobentos dipengaruhi berbagai faktor lingkungan abiotik dan biotik. Secara abiotik, faktor lingkungan yang mempengaruhi keberadaan makrozoobentos adalah faktor fisika-kimia lingkungan perairan, diantaranya; penetrasi cahaya yang berpengaruh terhadap suhu air; substrat dasar; kandungan unsur kimia seperti oksigen terlarut dan kandungan ion hidrogen (pH), dan nutrien. Sedangkan secara biologis, diantaranya interaksi spesies serta pola siklus hidup dari masing-masing spesies dalam komunitas (Tudorancea et all.  1979).

Cahaya matahari merupakan sumber panas yang utama di perairan, karena cahaya matahari yang diserap oleh badan air akan menghasilkan panas di perairan (Odum, 1993). Di perairan yang dalam, penetrasi cahaya matahari tidak sampai ke dasar, karena itu suhu air di dasar perairan yang dalam lebih rendah dibandingkan dengan suhu air di dasar perairan dangkal. Klein (1972) dalam Yusuf (1994), menyatakan bahwa suhu air yang tinggi dapat menambah daya racun senyawa-senyawa beracun seperti NO3, NH3, dan NH3N terhadap hewan akuatik, serta dapat mempercepat kegiatan metabolisme hewan akuatik. Sumber utama senyawa ini berasal dari sampah dan limbah yang mengandung bahan organik protein.

Oksigen terlarut sangat penting bagi pernafasan zoobentos dan organisme-organisme akuatik lainnya (Odum, 1993). Kelarutan oksigen dipengaruhi oleh faktor suhu, pada suhu tinggi kelarutan oksigen rendah dan pada suhu rendah kelarutan oksigen tinggi. Berdasarkan kandungan oksigen terlarut (DO), Lee et al.  (1978) mengelompokkan kualitas perairan atas empat yaitu; tidak tercemar (> 6,5 mg/l), tercemar ringan (4,5 – 6,5 mg/l), tercemar sedang (2,0 – 4,4 mg/l) dan tercemar berat (< 2,0 mg/l).

Nilai pH menunjukkan derajat keasaman atau kebasaan suatu perairan.  Pescod (1973) menyatakan bahwa toleransi organisme air terhadap pH bervariasi.  Hal ini tergantung, pada suhu air, oksigen terlarut dan adanya berbagai anion dan kation serta jenis dan stadium organisme.

Kehadiran spesies dalam suatu komunitas zoobentos didukung oleh kandungan organik yang tinggi, akan tetapi belum tentu menjamin kelimpahan zoobentos tersebut, karena tipe substratpun ikut menentukan (Welch, 1952; Santos dan Umaly, 1989 dalam Izmiarti, 1990; Lowe and Thompson, 1997). Tipe substrat dasar perairan pesisir ditentukan oleh arus dan gelombang.  Disamping itu juga oleh kelandaian (slope) pantai. Menurut Sumich (1992), Nybakken (1997) dan Barnes and Hughes (1999) substrat daerah pesisir terdiri dari bermacam-macam tipe, antara lain: lumpur, lumpur berpasir, pasir, dan berbatu.

Substrat lumpur, merupakan ciri dari estuaria dan rawa asin. Pantai berlumpur cenderung untuk mengakumulasi bahan organik, sehingga cukup banyak makanan yang potensial bagi bentos pantai ini. Namun, berlimpahnya partikel organik yang halus yang mengendap di dataran lumpur juga mempunyai kemampuan untuk menyumbat permukaan alat pernafasan. Bentos yang dominan hidup di daerah substrat berlumpur tergolong dalam “suspended feeder”. Diantara yang umum ditemukan adalah kelompok Polychaeta, Bivalva, Crustaceae, Echinodermata dan Bakteri. Disamping itu juga ditemukan gastropoda dengan indeks keanekaragaman yang rendah serta lamun yang berperan meningkatkan kehadiran bentos.

Adapun substrat berpasir umumnya miskin akan organisme, tidak dihuni oleh kehidupan makroskopik, selain itu kebanyakan bentos pada pantai berpasir mengubur diri dalam substrat.  Produksi primer pantai berpasir rendah, meskipun kadang-kadang dijumpai populasi diatom yang hidup di pasir intertidal. Kelompok organisme yang mampu beradaptasi pada kondisi substrat pasir adalah organisme infauna makro (berukuran 1-10 cm) yang mampu menggali liang di dalam pasir, dan organisme meiofauna mikro (berukuran 0,1 – 1 mm) yang hidup di antara butiran pasir dalam ruang interaksi.  Ditinjau dari kebiasaan makan (feeding habit) maka hewan bentos yang banyak ditemukan adalah kelompok suspended feeder dan karnivor. Organisme yang dominan adalah polychaeta, bivalva dan crustacea.

Daerah pesisir dengan substrat berbatu merupakan daerah yang paling padat makroorganismenya dan mempunyai keragaman terbesar baik untuk spesies hewan maupun tumbuhan. Ditinjau dari kebiasaan makan (feeding habit) maka hewan bentos yang banyak ditemukan termasuk kelompok herbivora, scavenger, suspended feeder dan predator.  Organisme bentos yang dominan adalah kelompok epifauna, seperti gastropoda, crustacea, bivalva dan echinodermata.

Kedalaman air mempengaruhi kelimpahan dan distribusi zoobentos. Dasar perairan yang kedalaman airnya berbeda akan dihuni oleh makrozoobentos yang berbeda pula, sehingga terjadi stratifikasi komunitas menurut kedalaman. Berdasarkan kedalaman laut Wright (1984), mengelompokkan keberadaan hewan bentos dibagi atas tiga zone yaitu (1) zona intertidal (intertidal zone), (2) zona paparan benua (continental shelf) dan (3) zona laut dalam (deep sea). 

Benthos Sebagai Spesies Indikator
Berdasarkan nilai indeks keragaman jenis zoobentos yang dihitung berdasarkan formulasi Shannon-Wiener, dapat ditentukan beberapa kualitas air.  Wilhm (1975) menyatakan bahwa air yang tercemar berat, indeks keragaman jenis zoobentosnya kecil dari satu.  Jika berkisar antara satu dan tiga, maka air tersebut setengah tercemar. Air bersih, indeks keragaman zoobentosnya besar dari tiga.  Staub et all.  dalam Wilhm (1975) menyatakan bahwa berdasarkan indeks keragaman zoobentos, kualitas air dapat dikelompokkan atas: tercemar berat (0  Sedangkan Lee et all. (1978) menyatakan bahwa nilai indeks keragaman (H) pada perairan tercemar berat, kecil dari satu (H<1), tercemar sedang (1,0 - 1,5), tercemar ringan (1,6 – 2,0), dan tidak tercemar H besar dari dua (H>2,0).

Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS Surabaya 2010-2011

Sabtu, 26 Februari 2011

Pewarnaan Mikroorganisme

Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah pewarna metilen blue, crytal violet, nigrosin atau tinta cina, pewarna Gram, ose, bunsen atau lampu spiritus, dan kaca objek.

Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah kultur bakteri umur 24 jam.

Cara kerja
Pewarnaan lansung
Air diteteskan pada bagian tengah kaca objek yang bersih dan tidak berlemak. Selanjutnya dengan menggunakan jarum ose yang telah dipijarkan, diambil sedikit bakteri pada biakan bakteri, dicampurkan sedikit dan digeser- geserkan pada air di kaca objek dengan diameter kurang lebih 1 cm sampai rata dan dibiarkan kering di udara atau digoyang – goyangkan diatas api spirtus dengan jarak 30 cm sampai kering. Kemudian diteteskan salah satu zat pewarna ( metilen blue atau crystal violet ) sebanyak 5 tetes dalam sediaan. Sel akan diwarnai metilen blue dalam 30 – 60 detik, sedangkan crytal violet dalam 10 detik. Lalu dicuci kelebihan warna dengan air mengalir. Dikeringkan sediaan dengan meletakkannya diatas kertas saring. Selanjutnya diamati dibawah mikroskop perbesaran 1000X dengan menggunakan minyak immersi. Dicatat dan gambar mikroorganisme yang diamati.

Pewarnaan tak langsung
Diteteskan satu tetes larutan nigrosin di tepi kaca objek yang bersih dari kotoran lemak. Kemudian dicampurkan kultur bakteri dengan menggunakan ose pada larutan tersebut. Diratakan cairan dengan cara diletakkan ujung sebuah kaca objek lain yang bersih ditepi luar dari tetesan diatas kaca objek pada nomor satu diatas. Ditarik kaca objek bagian atas ke arah ujung dari bagian kaca objek yang dibawah sehingga ujung kaca objek bagian atas bergeser sepanjang permukaan kaca objek yang di bawah sehingga cairan menyebar ke seluruh permukaan kaca objek di bagian bawah. Ditunggu kering dan diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 1000X dengan menggunakan minyak immersi yang selanjutnya digambarkan bentuk dari sel bakteri yang terlihat.

Pewarnaan Gram

Dibersihkan kaca objek dengan alkohol kemudian dikeringkan. Diteteskan 1 tetes air pada kaca objek yang telah dibersihkan. Dipindahkan sedikit biakan bakteri berumur 24 jam dengan menggunakan jarum ose steril pada tetesan air tersebut dan diratakan. Dikeringkan larutan bakteri tersebut di udara, jika terlalu lama, dikeringkan dengan cara dilewatkan bebrapa kali di atas nyala api ( kurang lebih 20 cm ). Setelah kering, dilewatkan geals objek tersebut dengan cepat 2- 3 kali di tengah nyala api supaya lapisan lapisan bakteri terfiksasi dengan baik. Diteteskan kristal violet hingga menutupi hasil fiksasi bakteri. Dibiarkan selama 1 menit, kemudian dibilas dengan air kran. Dicuci lapisan bakteri dengan alkohol selama 10 – 20 detik, kemudian dibilas dengan air kran. Lalu dibubuhi dengan fuchsin basa atau safranin selama 45 detik, selanjutnya dibilas dengan air. Dikeringkan di udara atau digunakan kertas tissue secara hati – hati. Dibubuhi kertas minyak immersi dan diamati bentuk serta warna bakteri pada perbesaran 1000X. Digambarkan bentuk bakteri yang terlihat pada mikroskop. Setelah pengamatan selesai, dibersihkan lensa mikroskop dengan mengunakan xylol. 

Pembahasan

Pewarnaan Langsung
Langkah awalnya, disemprot kedua telapak tangan dengan alkohol, tujuaannya supaya tangan dan kaca objek yang akan dipergunakan menjadi steril baik dari bakteri maupun mikroorganisme lain yang menempel. Selanjutnya diteteskan air pada bagian tengah kaca objek yang bersih dan tidak berlemak, tujuan penetesan air ini, untuk memisahkan bakteri pada koloninya / agar bakterinya dapat berpencar sehingga memudahkan dalam pengamatan karena tidak bergerombol.
Selanjutnya dengan menggunakan jarum ose yang telah dipijarkan, diambil sejumlah bakteri pada biakan bakteri. Tujuan pemijaran jarum ose adalah agar tidak terkontaminasi dengan mikroorganisme lain serta untuk memusnahkan kehidupan mikroorganisme yang tersisa pada jarum ose. Lalu dicampurkan sedikit dan geser- geserkan pada air di kaca objek dan dibiarkan kering diudara atau digoyang- goyang di atas api Bunsen dengan jarak 30 cm sampai kering agar lebih cepat proses pengeringan. Tujuan dikeringkan / difikasasi agar bakteri yang menempel pada kaca objek, pada saat sediaan dicuci, maka bakteri akan masih tetap menempel pada kaca objek.
Berikutnya setelah kering, kaca objek ditetesi dengan reagen, pada percobaan ini reagen yang digunakan adalah crystal violet. Ditunggu selama 10 detik. Selama waktu 10 detik itu, zat warna akan dapat diserap oleh bakteri. Kemudian dicuci kelebihan warna dengan air mengalir. Yang perlu diperhatikan saat membilas yaitu posisi kaca objek dimiringkan 45 ยบ dan air dialirkan pada bagian ujung ( atas ) kca objek. Hal ini bertujuan untuk mengurangi tekanan air pada bakteri yang telah diwarnai, sehingga zat warna yang larut dalam bilasan air tersebut hanyalah zat warna yang berlebih yang selanjutnya dikeringkan sediaan pada bagian pinggir kaca objek dengan menggunakan kertas saring atau tissue. Langkah berikutnya diamati dibawah mikroskop dengan pembesaran 1000 x dengan mengunakan minyak immersi. Penggunaan minyak immerse bertujuan agar sediaan tampak jelas saat diamati pada mikroskop, karena sifat dari minyak immerse ini adalah untuk memperbesar indeks bias lensa. Setelah itu dicatat dan digambar. Berikut adalah perbandingan gambar berdasarkan literatur dengan  gambar pengamatan.

Pewarnaan Gram
Langkah pertama kaca objek dibersihkan dengan alkohol lalu dikeringkan. Tujuan digunakan alkohol ini adalah untuk mensterilkan kaca objek, karena karena alkohol mempunyai sifat mudah menguap sehingga kaca objek yang telah disterilkam dengan alkohol akan mudah kering. Kemudian teteskan air pada kaca objek yang telah dibersihkan. tujuan penetesan air adalah memisahkan bakteri pada koloninya sehingga tidak bergerombol. Lalu dipindahkan sedikit biakan bakteri yang berumur 24 jam dengan menggunakan jarum ose steril pada tetesan air dan diratakan. Jarum ose sebelum digunakan harus dipijarkan terlebih dahulu, yang bertujuan agar tangan dan kaca objek yang akan digunakan menjadi steril dari bakteri atau mikroorganisme lain yang menempel pada jarum ose. Diratakan, hal ini karena antara air dan bakteri harus benar- benar tercampur. Jika tidak diratakan maka bakteri akan tertimbun – timbun ( bergerombol ) sehingga dalam pengamatan tidak akan jelas.


Kemudian dikeringkan larutan bakteri tersebut di udara atau di atas api Bunsen dengan jarak kurang lebih 30 cm, dan setelah kering dilewatkan pada api kurang lebih 2-3 kali, dimana tujuannya untuk mempercepat proses fiksasi. Ketika kering, bakteri dapat menempel pada kaca objek. Lalu diteteskan kristal violet hingga menutupi hasil fiksasi bakteri, dibiarkan selama 1 menit kemudian bilas dengan air kran. Digunakan kristal violet, karena merupakan pewarna primer pada mikroorganisme.

Selanjutnya lapisan bakteri ditetesi dengan  iodine ( lugol ) dan dibiarkan selama 1 menit, kemudian dibilas dengan air. Iodin dalam pewarnaan ini berfungsi sebagai penguat warna sehingga warna bakteri akan nampak jelas.dicuci lapisan bakteri dengan alkohol pada gelas kimi 50 ml, kemudian dibilas dengan air kran. Penggunaan alkohol karena akan menghilangkan kompleks kristal – iodin. Lalu bubuhi dengan fuchsin basa atau safranin selama 45 detik, yang selanjutnya dibilas dengan air. Fuchsin akan menyebabkan bakteri berwarna merah karena kompleks XV – 1 telah hilang dan safranin akan mewarnai dinding sel. Keringkan di udara atau lap bagian pinggir kaca objek dengan menggunakan tissue secara hati- hati.
Dibubuhi dengan minyak immerse dan diamati bentuk dan warna bakteri pada perbesaran 1000 x. Fungsi pemberian minyak immerse ini adalah untuk memperbesar indeks bias. Catat dan gambar bentuk bakteri ynag terlihat pada mikroskop. 

Eucheuma cottonii


Taksonomi Eucheuma cottonii adalah sebagai berikut :
Regnum : Plantae
Divisi : Rhodophyta
Kelas : Rhodophyceae
Ordo : Gigartinales
Famili : Solierisceae
Genus : Eucheuma
Spesies : Eucheuma cottonii

Bentuk tubuh dari pada Eucheuma cottonii yaitu thallus berbentuk silindris; permukaan licin; thallusnya bersifat Cartilageneus ( menyerupai tulan rawan / muda ); percabangan thallus berujung runcing atau tumpul, sekitar percabangan ditumbuhi nodulus ( tonjol-tonjolan ), dan duri lunak / tumpul untuk melindungi gametangia; serta berwarna hijau terang, hijau olive, dan coklat kemerahan. Percabangan bersifat alternates ( berselang seling ), tidak teratur, serta dapat bersifat Dichotomous ( percabangan dua-dua ) trichotomous ( sistem percabangan tiga-tiga ).

Eucheuma cottonii merupakan salah satu jenis rumput laut yang paling banyak dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Rumput laut tersebut dapat diolah menjadi permen, jelly, manisan, dodol, dan minuman dengan metode dan peralatan yang sederhana. Pembuatan makanan ini dimaksudkan untuk meningkatkan nilai tambah rumput laut dan diversifikasi olahan rumput laut.

Jelly Rumput Laut dari Eucheuma cottonii
Bahan utama yang digunakan dalam pembuatan permen jelly rumput laut adalah rumput laut Eucheuma cottonii kering tawar. Bahan lainnya yang diperlukan adalah glukosa/fruktosa cair, sukrosa, asam sitrat, pewarna, esens/pasta, dan natrium benzoat. Pembuatan permen jelly dilakukan dengan mencampur gula/glukosa dengan rumput laut yang dapat membentuk gel dan menyerap air sehingga dapat mempengaruhi tekstur permen jelly yang dibuat.

Manisan Kering Rumput Laut dari Eucheuma cottonii
Bahan utama yang digunakan untuk pembuatan manisan adalah jenis rumput laut Eucheuma cottonii kering tawar. Bahan lain yang diperlukan dalam pembuatan manisan ini adalah tawas/kapur sirih untuk perendaman, sukrosa (gula pasir), asam sitrat, pewarna, esens/pasta, dan natrium benzoat. Bahan pemanis yang digunakan dalam pembuatan manisan ini adalah gula pasir. Pemberian gula dalam konsentrasi yang tinggi selain untuk memberikan rasa manis juga sebagai pengawet untuk mencegah tumbuhnya mikroba. Rumput laut dapat dibuat menjadi manisan basah dan manisan kering berdasarkan proses pengolahannya.

Dodol Kering Rumput Laut dari Eucheuma cottonii
Bahan utama yang digunakan untuk pembuatan dodol adalah jenis rumput laut Eucheuma cottonii kering tawar. Bahan lain yang diperlukan dalam pembuatan dodol ini adalah gula pasir, pewarna, esens atau pasta dan natrium benzoat. Rumput laut dapat diolah menjadi dodol rumput laut yang lezat dan manis rasanya dengan cara merebus pasta rumput laut dengan gula.

Minuman Rumput Laut Eucheuma cottonii
Bahan utama yang digunakan untuk pembuatan minuman rumput laut adalah jenis rumput laut Eucheuma cottonii kering. Bahan lain yang diperlukan adalah tawas/kapur sirih untuk perendaman, sukrosa (gula pasir), asam sitrat, pewarna, esens/pasta, dan natrium benzoat. Salah satu produk rumput laut yang telah populer dan banyak beredar di pasar adalah minuman rumput laut yang dikemas dalam kemasan plastik. Minuman tersebut selain menyehatkan juga menyegarkan, terutama jika diminum dalam keadaan dingin.

Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011

Sekilas Rumput Laut


Rumput laut termasuk kelompok tumbuhan algae yang berukuran besar, dalam artian dapat terlihat dengan mata biasa tanpa alat pembesar dan bersifat bentik atau tumbuh menancap atau menempel pada suatu substrat di perairan laut. Algae yang disebut rumput laut ini umumnya terdiri dari kelompok algae merah (Rhodophyceae), algae coklat (Phaeophyceae) dan algae hijau (Chlorophyceae). Ketiga kelompok ini yang tumbuh di laut diperkirakan ada sekitar 9000 jenis yang masing-masing adalah sekitar 6000 jenis Rhodophyceae, 2000 jenis Phaeophyceae dan 1000 jenis Chlorophyceae.

Pertumbuhan dan penyebaran rumput laut sangat tergantung dari faktor-faktor oseanografi (fisika, kimia dan pergerakan atau dinamika laut) serta jenis substrat dasarnya. Untuk pertumbuhannya, rumput laut mengambil nutrisi dari sekitarnya secara difusi melalui dinding thallusnya.

Penggolongan Rumput Laut
Penggolongan Rumput Laut berdasarkan Kandungan Pigmen
Berdasarkan kandungan pigmennya, rumput laut dikelompokkan menjadi 4 kelas (Othmer, 1986) yaitu : Rhodophyceae (ganggang merah), Phaeophyceae (ganggang cokelat), Chlorophyceae (ganggang hijau), Cyanophyceae (ganggang biru hijau). Beberapa jenis rumput yang bernilai ekonomi sejak dulu sudah diperdagangkan yaitu Eucheuma sp., Hynea sp., Gracillaria sp., dan Gelidium sp., dari kelas Rhodophyceae serta Sargassum sp., dari kelas Phaeophyceae. Rumput laut kelompok merah memiliki pigmen dominan fikoeretrin (phycoerethrin) dan fikosianin (phycocyanin) yang menimbulkan warna merah, walaupun pada kenyataannya di alam menunnjukkan variasi warna lain seperti hijau, ungu dan coklat tua karena sifat adaptik kromatiknya. Sebagai indikasi bahwa itu adalah rumput laut merah, yaitu apabila terjemur sinar matahari akan tampak berubah warna asalnya menjadi merah-ungu, kemudian menjadi putih karena kehilangan pigmennya. Pigmen yang dominan pada rumput laut kelompok coklat adalah fucoxantin, sedangkan pigmen yang dominan pada rumput laut kelompok hijau adalah klorofil b (Chlorophyl b).

Penggolongan Rumput Laut Berdasarkan Kandungan Koloid
Pengelompokkan lain adalah berdasarkan kandungan koloidnya. Ada kelompok rumput laut penghasil agar (senyawa polisakarida sulfat bersifat koloid) yang biasa disebut agarofit antara lain Gracilaria (rambu kasang) dan Gelidium (kades). Rumput laut seperti Eucheuma (agar-agar kasar, agar-agar patah tulang) dan Kappaphycus (cottonii) lainnya adalah termasuk kelompok penghasil karaginan (berupa garam sodium, kalsium dan potasium dari senyawa polisakarida sulfat asam karaginat) yang disebut karaginofit. Kelompok lainnya yaitu alginofit adalah penghasil alginat (garam kalsium, kalium, natrium dan magnesium dari senyawa polisakarida asam alginik), termasuk ke dalamnya antara lain Sargassum (oseng) dan Turbinaria.

Penamaan Rumput Laut
Pengelompokkan dan penamaan rumput laut secara ilmiah berdasarkan jenjang taksonomiknya diatur secara rinci dalam Kode Internasional Nomenklatur Botani. Nama ilmiah (scientific name) rumput laut yang biasanya ditulis dalam bahasa latin adalah berlaku (valid) secara universal di seluruh dunia. Selain itu ada juga nama rumput laut yang bersifat lokal (vernacular name) berdasarkan kelaziman di suatu daerah dengan menggunakan bahasa daerah masing-masing. Di Indonesia misalnya ada rumput laut yang nama ilmiahnya Gracilaria memilki nama lokal yang berbeda-beda di setiap daerah, ada yang menyebut rambu kasang (di Jawa), bulung sangu (di Bali), sango-sango/dongi-dongi (di Sulawesi) dan janggut dayung (di Bangkok). Ada juga nama rumput laut yang telah populer dalam dunia perdagangan internasional, misalnya “cottonii” untuk sebutan rumput laut yang nama ilmiahnya Kappaphycus dan nori untuk rumput laut Porphyra dari Jepang.

Kandungan Rumput Laut
Rumput laut yang banyak dimanfaatkan adalah dari jenis ganggang merah (Rhodophyceae) karena mengandung agar-agar, keraginan, porpiran, furcelaran maupun pigmen fikobilin (terdiri dari fikoeretrin dan fikosianin) yang merupakan cadangan makanan yang mengandung banyak karbohidrat. Tetapi ada juga yang memanfaatkan jenis ganggang coklat (Phaeophyceae). Ganggang coklat ini banyak mengandung pigmen klorofil a dan c, beta karoten, violasantin dan fukosantin, pirenoid, dan lembaran fotosintesa (filakoid). Selain itu ganggang coklat juga mengandung cadangan makanan berupa laminarin, selulose, dan algin. Selain bahan-bahan tadi, ganggang merah dan coklat banyak mengandung yodium.

Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011

Jumat, 25 Februari 2011

All About Mangrove


Kata ‘mangrove’ merupakan kombinasi antara bahasa Portugis "mangue" dan bahasa Inggris "grove". Dalam bahasa Inggris, kata mangrove digunakan untuk komunitas tumbuhan yang tumbuh di daerah jangkauan pasang surut dan untuk individu-individu spesies tumbuhan yang menyusun komunitas tersebut. Sedang dalam bahasa Portugis kata ’mangrove’ digunakan untuk menyatakan individu spesies tumbuhan, sedangkan kata ’mangal’ digunakan untuk menyatakan komunitas tumbuhan tersebut. Sedangkan menurut FAO, kata mangrove sebaiknya digunakan untuk individu jenis tumbuhan maupun komunitas tumbuhan yang hidup di daerah pasang surut.

Menurut Snedaker (1978) dalam Kusmana (2003), hutan mangrove adalah kelompok jenis tumbuhan yang tumbuh di sepanjang garis pantai tropis sampai sub-tropis yang memiliki fungsi istimewa di suatu lingkungan yang mengandung garam dan bentuk lahan berupa pantai dengan reaksi tanah an-aerob. Sedangkan menurut Tomlinson (1986), kata mangrove berarti tanaman tropis dan komunitasnya yang tumbuh pada daerah intertidal. Daerah intertidal adalah wilayah dibawah pengaruh pasang surut sepanjang garis pantai, seperti laguna, estuarin, pantai dan river banks. Mangrove merupakan ekosistem yang spesifik karena pada umumnya hanya dijumpai pada pantai yang berombak relatif kecil atau bahkan terlindung dari ombak, di sepanjang delta dan estuarin yang dipengaruhi oleh masukan air dan lumpur dari daratan.

Dengan demikian secara ringkas dapat didefinisikan bahwa hutan mangrove adalah tipe hutan yang tumbuh di daerah pasang surut (terutama pada pantai yang terlindung, laguna, muara sungai) yang tergenang pasang dan bebas genangan pada saat surut yang komunitas tumbuhannya bertoleransi terhadap garam. Sedangkan ekosistem mangrove merupakan suatu sistem yang terdiri atas organisme (hewan dan tumbuhan) yang berinteraksi dengan faktor lingkungannya di dalam suatu habitat mangrove.

Ada beberapa istilah yang digunakan untuk menyebut hutan mangrove. Antara lain tidal forest, coastal woodland, vloedbosschen, hutan payau dan hutan bakau. Khusus untuk penyebutan hutan bakau, sebenarnya istilah ini kurang sesuai untuk menggambarkan mangrove sebagai komunitas berbagai tumbuhan yang berasosiasi dengan lingkungan mangrove. Di Indonesia, istilah bakau digunakan untuk menyebut salah satu genus vegetasi mangrove, yaitu Rhizopora. Sedangkan kenyataannya mangrove terdiri dari banyak genus dan berbagai jenis, sehingga penyebutan hutan mangrove dengan istilah hutan bakau sebaiknya dihindari.

Secara ringkas ekosistem mangrove terbentuk dari unsur-unsur sebagai berikut :
a. spesies pohon dan semak yang benar-benar memiliki habitat terbatas di lingkungan mangrove (exclusive mangrove)
b. spesies pohon dan semak yang mampu hidup di lingkungan mangrove dan di luar lingkungan mangrove (non-exclusive mangrove)
c. berbagai biota yang hidupnya berasosiasi dengan lingkungan mangrove, baik biota yang keberadaannya bersifat menetap, sekedar singgah mencari makan maupun biota yang keberadaannya jarang ditemukan di lingkungan mangrove
d. berbagai proses yang terjadi di ekosistem mangrove untuk mempertahankan keberadaan ekosistem mangrove itu sendiri
e. hamparan lumpur yang berada di batas hutan sebenarnya dengan laut
f. sumber daya manusia yang berada di sekitar ekosistem mangrove

Hutan mangrove dapat ditemukan di pesisir pantai wilayah tropis sampai sub tropis, terutama pada pantai yang landai, dangkal, terlindung dari gelombang besar dan muara sungai. Secara umum hutan mangrove dapat berkembang dengan baik pada habitat dengan ciri-ciri sebagai berikut :
a. jenis tanah berlumpur, berlempung atau berpasir, dengan bahan bentukan berasal dari lumpur, pasir atau pecahan karang/koral
b. habitat tergenang air laut secara berkala, dengan frekuensi sering (harian) atau hanya saat pasang purnama saja. Frekuensi genangan ini akan menentukan komposisi vegetasi hutan mangrove
c. menerima pasokan air tawar yang cukup, baik berasal dari sungai, mata air maupun air tanah yang berguna untuk menurunkan kadar garam dan menambah pasokan unsur hara dan lumpur
d. berair payau (2-22 ‰) sampai dengan asin yang bisa mencapai salinitas 38 ‰

Secara umum hutan mangrove memiliki karakteristik sebagai berikut :
a. Tidak dipengaruhi oleh iklim, tetapi dipengaruhi oleh pasang surut air laut (tergenang air laut pada saat pasang dan bebas genangan air laut pada saat surut)
b. Tumbuh membentuk jalur sepanjang garis pantai atau sungai dengan substrat anaerob berupa lempung (firm clay soil), gambut (peat), berpasir (sandy soil) dan tanah koral
c. Struktur tajuk tegakan hanya memiliki satu lapisan tajuk (berstratum tunggal). Komposisi jenis dapat homogen (hanya satu jenis) atau heterogen (lebih dari satu jenis). Jenis-jenis kayu yang terdapat pada areal yang masih berhutan dapat berbeda antara satu tempat dengan lainnya, tergantung pada kondisi tanahnya, intensitas genangan pasang surut air laut dan tingkat salinitas
d. Penyebaran jenis membentuk zonasi. Zona paling luar berhadapan langsung dengan laut pada umumnya ditumbuhi oleh jenis-jenis Avicennia spp dan Sonneratia spp (tumbuh pada lumpur yang dalam, kaya bahan organik). Zona pertengahan antara laut dan daratan pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis Rhizophora sp. Sedangkan zona terluar dekat dengan daratan pada umumnya didominasi oleh jenis-jenis Brugiera sp.

Salim
1508 100 703
Menteri Dalam Negeri BEM FMIPA ITS 2010-2011